Shayne Pattynama
Immediate-Renova – Pernyataan mengejutkan datang dari salah satu pilar pertahanan Tim Nasional Indonesia, Shayne Pattynama. Setelah melakoni sesi latihan dan pertandingan di Jakarta International Stadium (JIS), pemain keturunan Maluku yang merumput di Eropa ini memberikan testimoni jujur yang memicu diskusi hangat di kalangan pencinta sepak bola tanah air.
Melalui wawancara eksklusif terbarunya di tahun 2026 ini, Shayne tidak ragu memuji kemegahan arsitektur JIS yang dianggapnya setara dengan stadion-stadion elit di benua biru. Namun, ia juga memberikan catatan kritis yang tajam: kualitas rumput lapangan utama masih menjadi ganjalan besar bagi pemain profesional untuk tampil maksimal. Artikel ini akan membedah poin-pun poin keberatan Shayne, membandingkannya dengan standar Eropa, dan melihat urgensi pembenahan infrastruktur stadion kebanggaan warga Jakarta ini.
Kesan Pertama Shayne Pattynama, Arsitektur yang Mengintimidasi Lawan

Sejak pertama kali menginjakkan kaki di koridor JIS, Shayne Pattynama mengaku sangat terkesan. Sebagai pemain yang telah mencicipi atmosfer berbagai stadion di Norwegia, Belanda, hingga Belgia, Shayne menilai JIS memiliki aura yang luar biasa. Desain stadion yang tanpa lintasan lari membuat jarak antara tribun penonton dan lapangan menjadi sangat dekat, menciptakan atmosfer yang intim sekaligus mengintimidasi bagi lawan.
“Saat pertama masuk, saya merasa ini bukan di Asia. Desain tribunnya yang menjulang tinggi memberikan tekanan psikologis yang bagus untuk lawan dan energi luar biasa bagi kami sebagai tuan rumah,” ujar Shayne. Menurutnya, dari segi fasilitas ruang ganti, area pemanasan dalam ruangan, hingga pencahayaan, JIS sudah masuk ke dalam kategori World Class Stadium.
Masalah Krusial: Tekstur Rumput yang Menghambat Aliran Bola
Pujian setinggi langit terhadap infrastruktur stadion seketika berubah menjadi kritik teknis saat Shayne mulai membahas kondisi lapangan hijau. Sebagai bek kiri yang mengandalkan kecepatan dan umpan-umpan pendek yang presisi (ball possession), Shayne merasa kualitas rumput di JIS belum mampu mendukung gaya permainan modern yang diinginkan pelatih Shin Tae-yong.
Shayne secara blak-blakan menyebutkan bahwa rumput di JIS cenderung terasa tidak rata dan mudah terkelupas saat terjadi duel fisik yang intens. “Stadion ini memiliki segalanya untuk menjadi yang terbaik di Asia, tapi kualitas rumputnya perlu dibenahi segera. Bola tidak bisa mengalir dengan mulus sesuai keinginan kita. Kadang arah bola menjadi tidak terprediksi karena permukaan yang tidak konsisten,” tuturnya. Kritikan ini sebenarnya bukan hal baru, namun kembali mencuat setelah pemain dengan pengalaman Eropa seperti Shayne Pattynama mengatakannya secara terbuka.
Perbandingan dengan Standar Eropa: Masalah Kelembapan dan Sirkulasi Udara
Dalam analisisnya, Shayne Pattynama mencoba membandingkan kondisi JIS dengan stadion di Eropa yang memiliki desain tertutup atau fully indoor. Di Eropa, stadion dengan atap tertutup tetap mampu menjaga kualitas rumput tetap prima melalui sistem sirkulasi udara dan pencahayaan buatan (UV growth lights) yang sangat canggih.
Menurut Shayne Pattynama, masalah di JIS kemungkinan besar terletak pada mikro-iklim di dalam stadion. Dengan struktur bangunan yang sangat tertutup, sirkulasi udara di permukaan lapangan menjadi terbatas. Hal ini mengakibatkan kelembapan tinggi yang membuat akar rumput menjadi kurang kuat dan tanah cenderung terlalu lembek atau justru keras di titik tertentu. “Di Eropa, kami bermain di lapangan yang terasa seperti karpet. Setiap inci lapangan memiliki kepadatan yang sama. Di sini (JIS), saya merasa ada beberapa area yang sangat empuk dan beberapa area yang justru licin,” tambah Shayne.
Dampak bagi Keselamatan Pemain, Risiko Cedera yang Menghantui

Bagi pemain profesional, kualitas lapangan bukan hanya soal estetika atau alur bola, melainkan soal keselamatan kerja. Lapangan yang tidak rata atau rumput yang mudah terlepas meningkatkan risiko cedera pergelangan kaki (ankle) dan lutut (ACL).
Shayne Pattynama Pemain Persija Jakarta mengungkapkan kekhawatirannya jika kondisi rumput ini tidak segera diperbaiki secara permanen. Pemain yang terbiasa dengan lapangan standar FIFA di Eropa seringkali melakukan pergerakan eksplosif seperti pivoting atau perubahan arah mendadak. Jika tumpuan kaki tidak stabil karena rumput yang lepas, risiko cedera fatal sangat tinggi. “Kami datang ke sini untuk memberikan 100% bagi negara, tapi jika lapangan tidak mendukung, terkadang secara bawah sadar kami sedikit ragu untuk melakukan manuver berbahaya karena takut cedera,” akunya secara jujur.
Tantangan Pemeliharaan Stadion Modern di Iklim Tropis
Mengelola stadion semegah JIS di negara tropis dengan curah hujan tinggi memang bukan perkara mudah. Shayne menyadari hal tersebut, namun ia berharap pengelola stadion bisa mengadopsi teknologi terbaru atau mendatangkan ahli rumput internasional untuk menangani masalah ini secara serius.
Masalah rumput hibrida yang digunakan di JIS seharusnya menjadi solusi, namun dalam praktiknya, rasio antara rumput alami dan sintetis serta cara pemangkasannya memerlukan presisi yang tinggi. Shayne Pattynama menekankan bahwa investasi triliunan rupiah untuk membangun stadion akan terasa sia-sia jika elemen terpenting dalam pertandingan—yaitu lapangan—tidak berada dalam kondisi puncak. “Jangan sampai kita punya casing yang cantik, tapi mesin di dalamnya tidak bekerja dengan baik,” tegas Shayne dengan gaya bicaranya yang lugas.
Harapan Shayne, Menjadikan JIS Rumah yang Sesungguhnya bagi Timnas

Kritik yang disampaikan Shayne Pattynama Persija Jakarta bukanlah bermaksud untuk merendahkan karya anak bangsa, melainkan bentuk kecintaan dan keinginannya agar Timnas Indonesia memiliki markas yang benar-benar ditakuti lawan karena kualitasnya.
Jika JIS berhasil membenahi kualitas rumputnya setara dengan standar Premier League atau Bundesliga, Shayne yakin Indonesia akan memiliki keunggulan kompetitif yang besar. Dengan dukungan suporter yang masif dan lapangan yang mendukung permainan cepat, Timnas Indonesia akan sulit dikalahkan oleh tim mana pun dari Asia. Shayne Pattynama berharap masukan dari para pemain dapat didengar oleh PSSI dan pengelola stadion demi kemajuan prestasi sepak bola tanah air.
Respons Publik dan Urgensi Tindak Lanjut Manajemen
Pernyataan Shayne Pattynama ini langsung mendapatkan reaksi beragam dari netizen Indonesia. Banyak yang mendukung kejujurannya karena selama ini keluhan serupa juga sempat dilontarkan oleh beberapa pengamat, namun suara dari pemain aktif yang merasakannya langsung di lapangan tentu memiliki bobot yang lebih besar.
Pihak pengelola JIS diharapkan dapat segera melakukan audit teknis terhadap sistem perawatan rumput mereka. Apakah masalahnya ada pada pemilihan jenis bibit, sistem penyiraman, atau memang struktur stadion yang menghalangi sinar matahari alami masuk ke area lapangan. Evaluasi ini menjadi sangat penting mengingat JIS diproyeksikan untuk menggelar pertandingan-pertandingan internasional besar di masa depan.
Langkah Menuju Sempurna
Shayne Pattynama telah membuka mata banyak pihak bahwa memiliki stadion megah hanyalah langkah awal. Kesempurnaan sebuah stadion sepak bola terletak pada detail-detail teknis di atas lapangan hijau. Masukan Shayne adalah sebuah pengingat bahwa sepak bola adalah olahraga teknis yang memerlukan dukungan infrastruktur yang sangat presisi.
JIS adalah mahakarya, dan dengan sedikit pembenahan serius pada kualitas rumputnya, mimpi melihat Timnas Indonesia berlaga di stadion kelas dunia dengan kualitas permainan kelas dunia pula, bukan lagi sekadar angan-angan. Seperti yang dikatakan Shayne Pattynama: “Kita sudah punya stadionnya, sekarang mari kita berikan rumput yang layak untuk stadion ini.”
