Enea Bastianini
Immediate-Renova – Dunia balap MotoGP diguncang oleh pernyataan jujur dari salah satu talenta terbaiknya. Setelah sekian lama bungkam dengan diplomasi khas pembalap profesional, Enea Bastianini akhirnya angkat bicara mengenai dinamika di balik layar yang menyebabkan dirinya harus menanggalkan seragam merah kebesaran Ducati Lenovo.
Dalam sebuah wawancara eksklusif yang menjadi sorotan utama di musim 2026 ini, pembalap berjuluk “The Beast” itu secara gamblang menyebut bahwa kedatangan Marc Marquez ke tim pabrikan adalah faktor tunggal yang mengubah segalanya. Berikut adalah analisis mendalam mengenai pengakuan Bastianini, politik internal Ducati, dan bagaimana peta kekuatan MotoGP berubah akibat keputusan kontroversial tersebut.
Kronologi Keputusan, Malam yang Mengubah Takdir Enea Bastianini

Keputusan Ducati untuk memilih Marc Marquez sebagai pendamping Francesco Bagnaia untuk musim 2025 dan seterusnya bukanlah keputusan yang diambil dalam semalam. Bagi Enea Bastianini, tanda-tanda itu sudah terlihat sejak awal musim 2024, namun puncaknya terjadi di GP Italia.
Enea Bastianini mengungkapkan bahwa meskipun ia menunjukkan performa yang solid dan konsistensi di atas Desmosedici GP24, manajemen Ducati tampak “terhipnotis” oleh daya tarik pemasaran dan data teknis yang dibawa oleh Marc Marquez. “Saya merasa sudah memberikan segalanya. Saya memenangkan balapan, saya berada di papan atas, tetapi di mata mereka, saya tetaplah orang yang bisa digantikan jika seorang juara dunia delapan kali mengetuk pintu,” ujar Bastianini dengan nada pahit.
Marc Marquez: Sosok yang Menggeser Paradigma Ducati
Mengapa Ducati lebih memilih Marquez yang sudah veteran dibandingkan Enea Bastianini yang merupakan masa depan Italia? Bastianini menjelaskan bahwa alasan utama bukan hanya soal kecepatan murni di lintasan, melainkan pengaruh masif yang dibawa Marquez secara global.
Marquez membawa aura, sponsor, dan tekanan media yang luar biasa. Di mata jajaran petinggi Borgo Panigale, menduetkan dua juara dunia (Bagnaia dan Marquez) adalah strategi “Dream Team” yang sulit ditolak secara komersial. Namun, menurut Enea Bastianini, hal ini mengabaikan harmoni tim yang telah dibangun selama bertahun-tahun. Kehadiran Marquez dianggap sebagai alasan utama mengapa pintu bagi pembalap Italia lainnya, termasuk dirinya dan Jorge Martin, tertutup rapat di tim pabrikan.
Politik Internal: Dilema Gigi Dall’Igna
Dalam wawancaranya, Bastianini tidak menyalahkan Gigi Dall’Igna secara personal, namun ia menyoroti bagaimana filosofi Ducati berubah. Selama bertahun-tahun, Ducati bangga dengan program pengembangan pembalap muda mereka (dari Pramac ke tim pabrikan). Namun, kasus Marquez menunjukkan bahwa Ducati bersedia membuang sistem tersebut demi peluang meraih gelar juara dengan pembalap paling ikonik di dekade ini.
“Gigi selalu menginginkan yang terbaik secara teknis, dan dia percaya Marc bisa memberikan masukan yang berbeda. Tapi bagi saya, itu adalah pengkhianatan terhadap jalur yang telah kami lalui bersama,” ungkap Enea. Ia merasa bahwa keberhasilannya menempati posisi ketiga di klasemen akhir tahun 2024 seolah tidak memiliki nilai ketika disandingkan dengan nama besar Marquez.
Efek Domino, Hancurnya Harmoni Tim Satelit

Keputusan Ducati memilih Marquez bukan hanya mengusir Enea Bastianini ke KTM Tech3, tetapi juga menyebabkan eksodus besar-besaran talenta dan tim. Kepergian Jorge Martin ke Aprilia dan kepindahan Marco Bezzecchi adalah bukti nyata dari efek domino tersebut.
Enea Bastianini Pembalap MotoGP menjelaskan bahwa suasana di paddock Ducati berubah menjadi sangat kompetitif secara toksik sejak spekulasi Marquez dimulai. Semua pembalap merasa tidak aman dengan posisi mereka. “Marquez adalah magnet, tetapi magnet yang kuat juga bisa merusak kompas. Dan itulah yang terjadi pada struktur internal Ducati. Fokusnya tidak lagi pada siapa yang tercepat, tapi siapa yang paling menjual,” tambahnya.
Kecepatan vs Pengaruh: Analisis Data Statistik
Bastianini bersikeras bahwa jika dilihat dari data telemetri murni pada musim 2024, jarak antara dirinya, Bagnaia, dan Marquez sangat tipis. Bahkan dalam beberapa balapan terakhir, gaya balap Enea Bastianini yang lembut pada ban dianggap lebih efektif untuk regulasi ban terbaru.
Namun, faktor “Marquez” melampaui statistik. Kemampuan Marc untuk beradaptasi dengan cepat dari motor Honda ke Ducati satelit dalam waktu singkat telah meyakinkan manajemen bahwa di atas motor pabrikan, ia akan menjadi monster yang tak terkalahkan. Bastianini merasa ia dikorbankan demi sebuah eksperimen besar yang mempertaruhkan stabilitas tim yang sudah mapan.
Babak Baru di KTM, Dendam yang Menjadi Motivasi

Kini, berseragam KTM Tech3, Enea Bastianini mengaku memiliki motivasi tambahan setiap kali melihat motor merah di lintasan. Baginya, musim 2026 adalah ajang pembuktian bahwa Ducati telah melakukan kesalahan sejarah.
“Saya mencintai Ducati, tetapi saya benci cara mereka mengakhiri hubungan ini. Sekarang, setiap kali saya melihat Marc di depan saya, itu bukan lagi sekadar balapan untuk poin. Ini adalah soal harga diri,” tegas Enea. Ia merasa KTM memberikan apresiasi yang tidak ia dapatkan di bulan-bulan terakhirnya bersama Ducati—sebuah lingkungan yang lebih mengutamakan kekeluargaan daripada politik korporasi.
Prediksi Masa Depan: Akankah Strategi Ducati Berhasil?
Wawancara Bastianini ini memicu perdebatan di kalangan pengamat MotoGP. Apakah mengorbankan pembalap muda bertalenta seperti Enea demi Marquez adalah langkah yang tepat? Banyak yang memprediksi bahwa duet Bagnaia-Marquez akan meledak di tengah musim karena ego kedua juara tersebut.
Jika Marquez gagal memberikan gelar juara dunia bagi Ducati pabrikan, maka kepergian Enea Bastianini akan dikenang sebagai salah satu blunder transfer terbesar dalam sejarah MotoGP. Bastianini sendiri percaya bahwa persaingan antara Pecco dan Marc akan memberikan celah bagi tim lain seperti KTM dan Aprilia untuk mencuri gelar.
Luka yang Belum Sepenuhnya Sembuh
Pengakuan jujur Enea Bastianini memberikan perspektif baru bagi para penggemar setianya. Di balik senyum kalem “The Beast”, tersimpan kekecewaan mendalam terhadap sistem yang lebih memuja nama besar daripada proses dan loyalitas.
Marc Marquez mungkin adalah pembalap terbaik sepanjang masa bagi sebagian orang, tetapi bagi Bastianini, ia adalah alasan utama mengapa mimpi indahnya bersama Ducati harus berakhir secara prematur. Kini, dengan motor oranye dan semangat baru, Bastianini siap membuktikan bahwa seekor monster yang terluka jauh lebih berbahaya daripada seorang juara yang sudah merasa di atas angin.
