Yasmin Maitsaa
Immediate-Renova – Dunia bulu tangkis Indonesia kembali digemparkan oleh bakat-bakat muda yang bertarung di ajang Seleksi Nasional (Seleknas) PBSI 2026 yang berlangsung di Majeh Arena, Karawang. Di antara ratusan peserta yang bermimpi mengenakan seragam merah-putih di bawah naungan Pelatnas Cipayung, nama Shaafiya Yasmin Maitsaa mencuri perhatian. Atlet tunggal putri asal PB Djarum ini membuktikan bahwa keberhasilan bukan sekadar soal pukulan keras atau teknik yang mumpuni, melainkan soal kematangan mental dan kesabaran yang luar biasa di lapangan.
Perjalanan Karir Yasmin Maitsaa, Dari Audisi Umum hingga Karawang

Lahir di Sleman pada 27 Maret 2008, Yasmin Maitsaa merupakan salah satu permata hasil tempaan Audisi Umum Beasiswa Bulutangkis 2018. Sejak bergabung dengan PB Djarum, grafik permainannya terus menunjukkan tren positif. Namun, perjalanannya tidak selalu mulus. Sebelum bersinar di Seleknas 2026, ia harus melewati berbagai rintangan, termasuk kekalahan yang menyakitkan dan kegagalan menembus fase krusial di tahun-tahun sebelumnya.
Pada tahun 2023, ia mulai menunjukkan tajinya dengan menjuarai Pembangunan Jaya Raya Junior International Grand Prix. Kemenangan itu menjadi sejarah karena merupakan gelar internasional pertamanya. Memasuki tahun 2026, Yasmin datang dengan persiapan lebih matang, membawa misi besar untuk melampaui pencapaian tahun lalu di mana ia harus terhenti di babak perempat final.
Ujian Mental di Babak Perempat Final 2026
Momen krusial bagi Yasmin Maitsaa terjadi di babak perempat final Seleknas PBSI 2026. Ia harus berhadapan dengan rekan satu klubnya, Christabel Calista Purwanto. Pertandingan “perang saudara” ini selalu memiliki tensi tinggi karena kedua pemain sudah sangat mengenal kelebihan dan kekurangan masing-masing.
Pertandingan berlangsung selama 67 menit dalam drama tiga gim. Yasmin sempat tertinggal jauh di awal gim pertama karena bermain terburu-buru. Namun, di sinilah kata “sabar” menjadi kunci. Dengan mengubah pola permainan dan menahan emosi untuk tidak segera mematikan bola, ia berhasil membalikkan keadaan dan menang 22-20. Meski sempat kehilangan gim kedua dengan 16-21, Yasmin Maitsaa kembali ke strategi awalnya di gim penentu. Hasilnya, ia menang 21-15 dan memastikan diri melaju ke semifinal, sebuah capaian yang lebih baik dari tahun sebelumnya.
Memetik Pelajaran dari Kekalahan di Fase Grup

Salah satu hal yang membuat performa Yasmin Maitsaa Atket Badminton Indonesia di babak gugur begitu impresif adalah kemampuannya melakukan evaluasi diri. Di fase grup, ia sempat menelan kekalahan dari Wening Arviani (Pelatkot Tangsel). Yasmin mengakui bahwa kekalahan tersebut terjadi karena ia banyak melakukan kesalahan sendiri akibat ketidaksabaran.
“Kemarin di grup saya kalah karena banyak tidak sabar. Saya banyak tertekan. Jadi, harapan saya adalah bisa membalas kekalahan itu dengan bermain lebih tenang,” ungkap Yasmin Maitsaa saat diwawancarai setelah laga perempat final. Sikap rendah hati dan keinginan untuk belajar dari kesalahan inilah yang membuatnya dianggap sebagai calon bintang masa depan.
Target Besar: Menuju Pelatnas Cipayung
Melaju lebih jauh hingga ke babak semifinal dan final Seleknas bukan sekadar urusan memenangkan trofi bagi Yasmin. Baginya, ini adalah tiket emas untuk mempercepat perkembangan karirnya. Bergabung dengan Pelatnas Cipayung di usia muda akan memberikan ia akses ke fasilitas latihan terbaik dan bimbingan langsung dari pelatih-pelatih kelas dunia.
“Harapannya saya bisa juara dan tembus ke Pelatnas. Kalau bisa masuk lebih awal, saya bisa belajar lebih banyak lagi, dan itu bagus buat karier saya ke depannya,” tambahnya. Semangat ini menunjukkan ambisi yang sehat dari seorang atlet remaja yang sadar bahwa perjalanan panjang masih membentang di depannya.
Analisis Permainan, Ketenangan di Atas Segalanya

Secara teknis, Yasmin dikenal sebagai pemain yang memiliki penempatan bola yang akurat. Namun, keunggulan utamanya di Seleknas 2026 adalah daya tahan mental. Dalam reli-reli panjang yang melelahkan, ia mampu menjaga fokus tanpa terpengaruh oleh skor yang tertinggal.
Strategi “main sabar” yang ia terapkan terbukti efektif untuk memancing lawan melakukan unforced errors. Saat lawan mulai frustrasi karena serangannya selalu kembali, Yasmin justru tetap tenang, menunggu momentum yang tepat untuk melakukan serangan balik yang mematikan.
Inspirasi bagi Atlet Muda Lainnya
Kisah Yasmin Maitsaa di Seleknas PBSI 2026 adalah pengingat bagi setiap atlet muda bahwa bakat hanyalah satu bagian dari kesuksesan. Bagian lainnya adalah kerja keras, evaluasi tanpa henti, dan yang terpenting: kesabaran dalam berproses. Dengan melaju lebih jauh dibanding tahun lalu, Yasmin telah membuktikan bahwa ia telah naik kelas, baik secara teknis maupun mental.
Terlepas dari apa pun hasil akhirnya nanti di babak puncak, Yasmin telah menunjukkan bahwa ia adalah salah satu talenta terbaik yang dimiliki Indonesia. Kesabarannya berbuah manis, membawanya melaju lebih jauh dan mendekatkannya pada mimpi besar mengenakan seragam tim nasional Indonesia.
